Rabu, 18 Juli 2012

Moke: Minuman Khas Flores







Moke adalah minuman khas orang Flores. Ada moke putih dan hitam. Moke putih adalah nira hasil sadapan dari pohon lontar atau pohon enau. Moke putih akan manis rasanya bila wadah tampungan bersih. Biasanya bambu berukuran seruas di cuci bersih dan dikeringkan kemudian digantungkan pada ujung mayang yang telah di jepit atau di pukul-pukul kemudian dipotong ujungnya. Akan kelihatan ada cairan bening menetes dari ujung mayang. Itulah moke putih. Moke putih yang manis dapat dimasak dan dijadikan gula merah. Sedangkan moke putih yang diminum sebagai teman makan adalah moke yang ditampung dengan wadah bambu yang tidak bersih sehingga terjadi peragian. Dan rasa minuman agak pahit. Moke putih sejenis ini ada yang langsung diminum, tetapi lebih banyak digunakan untuk dimasak atau disuling dan menghasilkan moke hitam atau tuak.

Moke hitam sesungguhnya tidak hitam. Warnanya seperti air putih dan agak kuning. Ini adalah hasil sulingan dari moke putih. Moke putih disuling di Kuwu tua (saung penyulingan tuak). Orang Flores selalu menikmati tuak bila ada pesta. Tidak ada pesta tanpa tuak. Tuak sudah menyatu dengan pesta. Makan daging tanpa tuak terasa hambar dan kekurangan. Tuak membuat rasa komplit. Moke diolah dari sari enau atau tuak. Biasanya dimasak di rumah-rumah khusus atau pendopo-pendopo di kebun-kebun milik warga secara tradisional dengan pengetahuan turun-temurun. Moke bernilai sosial dan bisa menjadi wahana pemersatu warga dan juga keluarga-keluarga yang mungkin berseteru. Namun, di samping itu moke yang kebanyakan dikonsumsi bisa merangsang orang untuk mengkhianati dunia sosialnya dalam keadaan tak sadar, bahkan menghancurkan semua bangunan komunikasi yang sudah dibangun. Moke bernilai ekonomis. Masyarakat bisa menambah penghasilan rumah tangganya dengan bisnis moke kecil- kecilan. Namun, moke juga bisa membawa kehancuran ekonomis bagi orang yang terlalu banyak mengonsumsinya.
Orang yang kecanduan hanya akan berpikir untuk membeli moke dan terus membeli moke. Moke membantu identifikasi diri individu dewasa. Setiap pemuda dewasa pasti menegak secangkir-dua moke dalam urusan-urusan adat dan dengan demikian bisa mengambil bagian secara penuh dalam kultur. Serentak moke juga menjadi sarana yang dibawa dalam penyelesaian berbagai persoalan dalam adat- istiadat orang Sikka bahkan Flores dan NTT umumnya. Beberapa tempat moke yang direferensikan di daerah Sikka: Moke Hokor, berasal dari wilayah sekitar Hokor, Pomat dan arah Selatan-Timur Kabupaten Sikka. Wilayah-wilayah ini masuk dalam Kecamatan Bola. Moke Wairhubing, beberapa ratus meter sesudah terminal Barat Kota Maumere, dekat dengan Lokaria dan Depot Pertamina Bolawolon. Moke yang diolah di sini bisa diramu lagi dengan beberapa ramuan tradisional semisal ginseng, kerangka anak rusa, tangkur buaya dan lain-lain tergantung apa- adanya. Moke Kubu wilayah Nita, Koting, Nele, Tebuk, Bloro dan Kei. Moke jenis ini dimasak di kebun- kebun dan tempat minumnya berupa tempurung yang bocor bagian bawahnya sehingga setiap orang yang ingin menikmati hangatnya moke bisa langsung meminum sebelum isi dalam tempurung habis. Moke mungkin tidak bisa dilepaspisahkan dari kultur Sikka dan NTT umumnya. Yang bisa dibuat adalah meningkatkan kontrol diri dan kewaspadaan ketika minum moke. Jika Anda ke Maumere, jangan lupa minum moke. Cukup setengah gelas saja, biar Anda bisa menjadi saudara/i orang Maumere yang penuh hospitalitas itu.

Minuman Keras 'Cap Tikus' Sampai ke Luar Negeri








TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Minuman khas Bumi Nyiur Melambai, Cap Tikus suatu saat pasti menjadi primadona. Minuman asli Sulawesi Utara ini bisa diolah menjadi berbagai minuman berkelas. Bahkan sudah merambah hotel berbintang.
Tak pelak, sejumlah investor pun berminat mengembangkan minuman berbahan dasar air dari pohon aren ini. Gubernur Sinyo Harry Sarundajang pun mengakui sudah ada beberapa yang bertemu dengannya dan berminat berinvestasi.
Menurut penjelasan Staf Khusus Bidang Investasi Pemprov Sulut, Jackson Kumaat, upaya mempromosikan dan menawarkan Cap Tikus ke pelaku usaha nasional maupun internasional, terus dilakukan.
"Setiap kali mengadakan perjalanan dinas maupun pribadi, kita selalu tawarkan, bahwa Sulut punya produk khas ini. Paling baru saya ke Jakarta, Singapura, Hongkong, dan Jepang, kita tawarkan ke mereka," kata pria yang akrab disapa Jacko ini dari Kyoto Jepang.
Ia mengakui, pemasaran Cap Tikus sejauh ini bisa dibilang konvensional karena hasil produksi pengusaha minuman keras lokal selalu habis diserap pasar lokal. Kalaupun ada, hanya sebagian kecil yang dipasarkan ke luar daerah seperti Papua dan Kalimantan.
"Itulah, kita terus mendorong, bagaimana para 'pemain lama' yakni para pengusaha dan pedagang meningkatkan volume produksi dan berani ekspansi bisnis, semisal go nasional, pasarkan Cap Tikus berlabel atau hasil olahan Cap Tikus lainnya, jangan cuma di Manado," katanya.
Persoalannya,kata Jacko dengan pemasaran yang ada saat ini mereka sudah cukup puas.
"Dengan cara pemasaran seperti itu saja sudah laku. Buat apa harus investasi lagi," tambah Jacko.
Pemerintah lanjut Jacko selalu menawarkan investasi produk Cap Tikus ke pengusaha nasional dan internasional dengan tujuan agar minuman ini bisa dipasarkan secara modern dan berlabel. Agar Cap Tikus dikenal luas, kata dia,  memang perlu investasi tambahan.
"Kita selalu buka pintu untuk itu. Jika regulasinya diikuti, bermanfaat dan meningkatkan income dan derajat hidup petani, silakan," katanya.
Secara pribadi, Jacko yang notabene pengusaha  mengaku tertarik terjun langsung berinvestasi jualan Cap Tikus secara modern.
"Saya sendiri mau. Saya lama memikirkannya. Tapi usaha ini bukan semudah membalik telapak tangan, perlu kajian matang," katanya.
Pria yang pernah mencalonkan diri sebagai calon Wali Kota Manado ini tergelitik dengan produk minuman keras kemasan (dalam botol, karton) produksi luar negeri.
"Coba perhatikan, minuman botol yang kita minum di Indonesia, menarik karena ada sentuhan modal besar," katanya.
Paling tidak, impiannya, bagaimana Cap Tikus dikemas baik memenuhi standar dan dipasarkan ke luar daerah sehingga bisa memberi nilai tambah ke daerah.
"Siapa yang tak mau, Cap Tikus jadi produk unggulan. Jangan dulu go internasional, skala nasional dulu. Tentu, kalau ini jadi harus ada peningkatan produksi di tingkat petani," katanya.
Soal Cap Tikus yang sering dikambinghitamkan sebagai penyebab tindak kriminal di Sulut, Jacko menilai itu kurang tepat. Katanya, tak perlu Perda, Perwako atau regulasi yang mengatur pembatasan produksi. Yang perlu diperjelas ialah tata niaga minuman khas Sulut ini.
"Kalau orang mabuk, apakah salahnya ada di petani Cap Tikus? Tidak kan? Jadi pertanyaan kenapa orang suka mabuk, apa di belakangnya. Saya juga tak sependapat Cap Tikus jadi objek razia sebab ini sumber kehidupan ribuan petani dan keluarganya," kata Jacko, putra Tareran Minsel, satu di antara sentra penghasil Cap Tikus di Sulut.
Jumlah produksi Cap Tikus di Minahasa Selatan cenderung mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir. Di Minsel, hasil aren sebagai bahan baku pembuatan gula aren dan Cap Tikus tahun 2010 berjumlah 2,149,30 per hektare.
Kepala Dinas Perkebunan Minsel Imanuel Tapang melalui Kabid, Marthun Luther mengatakan produksi Cap Tikus mengalami pasang surut. "Untuk produksi Cap Tikus di Minahasa Selatan, banyak atau sedikit tergantung dari harga pasaran, kalau tinggi maka produksinya juga meningkat," jelasnya.
Begitu juga produk turunan aren yang lainnya yaitu gula aren."Produksinya juga tergantung harga di pasar," jelasnya.
Namun demikian, produksi Cap Tikus tiap tahun tikus bertambah, meski tidak terlalu signifikan."Tiap tahun paling meningkat 5 persen saja," jelasnya.
Data terakhir tahun 2010, produksi gula aren mencapati 772 ton."Sementara Cap Tikus mencapai 1200 juta liter," jelasnya. Ia menambahkan, data terbaru tahun 2011 baru akan dikeluarkan pada Mei nanti. Jadi per bulan produksi Cap Tikus bisa mencapai seratus ribu liter.
Ia menambahkan, tidak melakukan pembatasan terhadap petani yang melakukan produksi. "Terserah petani, tidak dilakukan pembatasan," jelas dia.
Wilayah yang dominan pohon aren dan produksi Cap Tikus adalah Tareran, Suluun Tareran, Amurang Timur, Kumelembuay, dan Motoling.
Ia memperkirakan, di tahun 2011, terjadi peningkatan menjadi 1,5 juta liter Cap Tikus, sementara gula merah turun menjadi 700 ton."Karena tahun 2011 harga Cap Tikus naik," jelas dia.


Selasa, 17 Juli 2012

Sensasi Cap Tikus Kala Pesta Adat





 TEMPO.CO, Jakarta - Pernah mendengar minuman Cap Tikus? Nama ini mungkin Anda dengar ketika menyaksikan berita orang yang meninggal dunia karena minuman oplosan. Di Indonesia timur minuman ini adalah hal yang biasa disajikan, terutama pada acara adat.

Tapi apa sebenarnya Cap Tikus? Ini adalah minuman keras beralkohol di atas 40 persen. Lebih keras dari Tequila. Bibir dan mulut seperti terbakar waktu menyesap Cap Tikus.

Penduduk di timur mengenal Cap Tikus sejak kedatangan bangsa Portugis. Dari merekalah masyarakat mempelajari proses penyulingan air buah enau menjadi Cap Tikus. Lalu kenapa bernama Cap Tikus? Kabarnya nama itu dipakai karena pembuatan Cap Tikus dilakukan di sela-sela pepohonan, tempat tikus hutan hidup.

Sebelum ada Cap Tikus, penduduk meminum air enau. Saguer namanya. Beda dengan Cap Tikus, saguer tidak melalui proses penyulingan. Hanya hasil fermentasi air buah enau, berwarna putih mirip susu encer, disajikan dalam selongsong bambu, dan kadar alkoholnya tidak terlalu keras.

Di Desa Gamtala, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, saguer minuman wajib acara makan adat atau horom toma sasadu. Tiap orang harus menenggak saguer. Kalau tidak, dia mesti membayar uang ganti rugi yang besarannya tidak ditetapkan.

Selama horom toma sasadu, bukan satu-dua gelas saguer saja yang diminum warga. Alkohol itu ditenggak selama sembilan hari sembilan malam, tujuh hari tujuh malam, lima hari lima malam, atau tiga hari tiga malam. Tanpa ada yang mabuk.

“Terbukti selama horom toma sasadu warga tidak berkelahi. Artinya mereka semua masih sadar,” kata Thomas Salasa, Kepala Adat Suku Sahu, Sabtu 24 Maret 2012.

Untuk santapan, masyarakat memakan nasi kembar. Rupa nasi kembar mirip lontong, dibakar dalam bambu dan tekstur rada padat. Dinamakan kembar karena gulungan pelepah pisang membentuk dua selongsong nasi. Lauknya ada sayur sop; ikan somasi, ikan air tawar, berbumbu manis pedas; balado ikan teri kacang; serta tumis kerang. Semua sajian dimakan berhari-hari, bermalam-malam, tanpa pernah kekenyangan.

Horom toma sasadu berasal dari istilah horom, artinya makan; toma berarti di; dan sasadu, rumah adat. Sasadu berdiri di atas beberapa tiang kayu, tanpa dinding, dan beratapkan daun sagu. Dalam setahun, makan adat digelar dua kali. Pada Maret makan adat disebut sa''ai ma ngowa, berarti syukur kecil setelah ritual tanam padi. Kedua digelar pada Juli, bernama sa''ai lamo atau syukur besar usai panen.

Di horom toma sasadu masyarakat tak melulu makan dan minum Cap Tikus. Secara bergiliran mereka menabuh empat tifa sepanjang empat meter. Genderang tifa dari batang pohon enau dan kulit rusa diikuti pukulan gong guna mengiringi warga yang menari legu salai.

Jika datang ke Festival Teluk Jailolo, 16-19 Mei 2012, Anda bisa menyantap nasi kembar, menyesap saguer atau Cap Tikus pada horom toma sasadu. Karena bukan penduduk asli, Anda akan diterima dengan sederet prosesi adat: pencucian kaki, dinamakan joko kaha; tarian penyambut tamu, sara dabi-dabi; tiupan musik bambu; dan sederet lagu adat, musik yanger.

Tapi apakah benar nama Cap Tikus berasal dari proses penyulingan tuak di tempat tikus hutan hidup, tidak ada yang bisa memastikannya. “Sepertinya hanya sebutan dari penduduk secara turun-temurun," kata Thomas.

CORNILA DESYANA

Saguer






Minuman saguer adalah minuman khas manado/minahasa yang terbuat dari tuak pohon enau. Rasanya mirip air tape  dan jika sudah mengalami fermentasi akan menjadi cuka yg di sebut cuka saguer, sebagai bahan kuah campuran gohu. Saguer sejak keluar dari mayang pohon enau sudah mengandung alkohol. Menurut kalangan petani, kadar alkohol yang dikandung saguer juga tergantung pada cara menuai dan peralatan bambu tempat menampung saguer saat menetes keluar dari mayang pohon enau.Untuk mendapatkan saguer yang manis bagaikan gula, bambu penampungan yang digantungkan pada bagian mayang tempat keluarnya cairan putih (saguer), berikut saringannya yang terbuat dari ijuk pohon enau harus bersih. Semakin bersih, saguer semakin manis. Semakin bersih saguer, maka Cap Tikus yang dihasilkan pun semakin tinggi kualitasnya.
Jenis minuman ini diproduksi rakyat Minahasa di hutan-hutan atau perkebunan di sela-sela hutan pohon enau. Pohon enau-atau saguer dalam bahasa sehari-hari di Manado-disebut pohon saguer karena pohon ini menghasilkan saguer, atau cairan putih yang rasanya manis keasam-asaman serta mengandung alkohol sekitar lima persen.
Warung-warung makan di Minahasa pada umumnya juga menjual saguer. Bahkan, sebagian orang desa sebelum makan lebih dulu meminum saguer dengan alasan agar bisa makan banyak atau Saguer biasanya di suguhkan pada acara kumpul-kumpul keluarga di Manado. baik acara resmi mau pun tidak.
orang-orang dimanado membeli Saguer atau Nira yang dipermentasikan biasanya dibeli per jerigen. maklum, yang minum orang-orang yang doyan minum Saguer, jadi wajib membeli satu atau lebih. konon untuk satu jirigen harga yang harus dibayar Rp. 30 ribu rupiah.  Kalau sisa saguer yang tidak terjual kemudian disuling secara tradisional menjadi minuman Cap Tikus. Kadar alkoholnya, sesuai penilaian dari beberapa laboratorium, naik menjadi sekitar 40 persen.

Cap tikus minuman khas Manado





Cap Tikus adalah jenis cairan berkadar alkohol rata-rata 40 persen yang dihasilkan melalui penyulingan saguer (cairan putih yang keluar dari mayang pohon enau atau seho dalam bahasa daerah Minahasa). Tinggi rendahnya kadar alkohol pada Cap Tikus tergantung pada kualitas penyulingan. Semakin bagus sistem penyulingannya, dan semakin lama disimpan, kadar alkohol Cap Tikus semakin tinggi. Di kalangan para peminum, Cap Tikus yang baik akan mengeluarkan nyala api biru ketika disulut korek api, semakin tinggi pula kadar alkoholnya. Petani sejauh ini masih menggunakan teknologi tradisional, yakni saguer dimasak kemudian uapnya disalurkan dan dialirkan melalui pipa bambu ke tempat penampungan. Tetesan-tetesan itulah yang kemudian dikenal dengan minuman Cap Tikus.
Cap Tikus sudah dikenal sejak lama di Tanah Minahasa. Memang tidak ada catatan pasti kapan Cap Tikus mulai hadir dalam khazanah budaya Minahasa. Namun, setiap warga Minahasa ketika berbicara tentang Cap Tikus akan menunjuk bahwa minuman itu mulai dikenal sejak nenek moyang mereka. Yang pasti, minuman Cap Tikus sudah sejak dulu sangat akrab dan populer di kalangan petani Minahasa. Umumnya, petani Minahasa, sebelum pergi ke kebun atau memulai pekerjaannya, minum satu seloki (gelas ukuran kecil, sekali teguk) Cap Tikus. Minuman ini, menurut Pendeta Dr. Richard AD Siwu, dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Tomohon (Ukit) dikenal oleh setiap orang Minahasa sebagai minuman penghangat tubuh dan pendorong semangat untuk bekerja.Sadar betul bahwa Cap Tikus mengandung kadar alkohol tinggi, sudah sejak dulu orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau mengontrol minum minuman Cap Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo menyangkut Cap Tikus, minum satu seloki Cap Tikus, cukup untuk menambah darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga seloki bakal ke neraka.
Banyak petani yang meminum Cap Tikus karena memang dengan satu seloki semangat kerja bertambah. Karena itu, minum satu seloki Cap Tikus diartikan menambah darah, dan semangat kerja.Tanda awas langsung diucapkan setelah menenggak satu seloki, sebab jika menambah lagi satu seloki bisa berakibat masuk penjara. Artinya, dengan dua seloki orang bakal mudah terpancing bertindak berlebihan, karena kandungan alkohol yang masuk ke tubuhnya membuat orang mudah tersinggung dan rentan berbuat kriminal.
Mengapa dinamai Cap Tikus? Tidak diperoleh jawaban yang pasti. Ada dugaan, nama itu dipakai karena pembuatannya dilakukan di sela-sela pepohonan, tempat tikus hutan bermain hidup. Jika di masa lalu, khususnya di kalangan para petani, Cap Tikus menjadi pendorong semangat kerja, lain hal lagi dengan kaum muda sekarang. Kini Cap Tikus telah berubah menjadi tempat pelarian. Cap Tikus telah berubah menjadi minuman tempat pelampiasan nafsu serta menjadi sarana mabuk-mabukan yang kemudian menjadi sumber malapetaka. Selain bisa diminum langsung, Cap Tikus juga menjadi bahan baku utama sejumlah pabrik anggur di Manado dan Minahasa. Dengan predikat anggur, Cap Tikus masuk ke kota dan bahkan di antarpulaukan secara gelap.

Whisky 100 Tahun Terkubur Es

Scotch itu sudah terkubur di kebekuan es Antarktika selama satu abad. Pernah menjadi bagian penting dari perbekalan spesial penjelajah kutub tersohor Ernest Shackleton. Kini, lima krat Scotch Whisky dan dua brandy itu ditemukan setelah hampir terlupakan…

Satu tim ekspedisi yang bertugas untuk memperbaiki gubuk peristirahatan penjelajah Antarktika itu berhasil menemukan dan menggalinya keluar dari bongkahan es. Beberapa botol sudah pecah akibat himpitan es yang mengungkung minuman keras itu sejak tahun 1909.
Ketua tim New Sealand Antarctic Heritage Trust, Al Fastier, mengatakan bahwa timnya menduga hanya ada dua krat Scotch yang terkubur di lapisan es itu, namun mereka terkejut kala menemukan ada 5 krat di sana.
Pemilik saham terbesar perusahaan minuman beralkohol itu dari grup Whyte & Mackay, memang sengaja mengutus tim khusus untuk menyelamatkan Scotch Whisky legendaris itu untuk digunakan sebagai sampel dan uji coba rasa. Perusahaan itu ingin menghidupkan kembali cita rasa minuman 100 tahun yang sudah tak diproduksi lagi itu untuk mengenang kembali semangat McKinlay and Co. (merk produksi scotch tersebut).
Fastier mengatakan, pekerja restorasi gubuk peristirahatan di Antarktika melaporkan temuan sejumlah botol minuman keras yang terkubur di bawah salju di lokasi gubuk tersebut pada 2006. Namun posisinya terlalu dalam untuk digali dengan peralatan sederhana.
Ekspedisi penggalian Scotch itu kemudian dirancang dan diterjunkan ke lokasi. Ternyata minuman itu berasal dari merek Chas. Mackinlay & co dan botol lainnya berlabel The Hunter Valley distillery Limited Allandale (Australia).
Richard Paterson, master blender di Whyte and Mackay, perusahaan yang dulu menyuplai Mackinlay’s whisky untuk Shackleton, mendeskripsikan bahwa temuan itu ibarat “hadiah dari surga bagi pecinta Whisky!
“Jika isinya berhasil dikonfirmasi, diekstrak dan dianalisis, resep campuran orisinal (minuman) itu akan sangat mungkin untuk diproduksi ulang. Karena resep orisinalnya sudah lama hilang, (temuan) ini tentunya akan membuka satu pintu menuju sejarah,” papar Richard Paterson pada sebuah pernyataannya yang dilansir AP dan dikutip dari Yahoo!News, Jumat (5/1).
Ekspedisi Shackleton kehabisan suplai dalam perjalanan panjang ber-ski yang mereka lakukan dari wilayah pantai utara Antraktika menuju titik
Kutub Selatan pada 1907-1909. Mereka memutuskan untuk kembali dalam perjalanan 160 km. Ekspedisi itu berlayar pulang pada 1909 kala es mulai terbentuk, meninggalkan semua stok suplai yang dibawa, termasuk whisky dan brandy yang kini ditemukan itu.* (foto: gearcave.com)